Kumpulan Cerita Fiksi Karya Bunda Iin

Wednesday, 28 December 2011

Harga Seorang Ibu


“Love you, Mom!” ucap Karen sembari mengakhiri pembicaraan kami melalui telepon, membuat hatiku terasa ringan. Ah, selalu saja menyenangkan setiap kali selesai bicara dengan putri pertamaku.
“Siapa yang nelpon, Mom?” suara putriku yang lain, Kayla menyahut dari ruang makan.
Aku menghampiri meja makan. “Mbakmu. Biasalah, ngasih tahu mau ke sini pas liburan bareng anak-anaknya,” jawabku.
Kayla mengangguk-angguk. “Kapan rencananya dia datang, Mom?” tanya Kayla lagi. Lalu menoleh memanggil putranya. “Jerry!“ Jeremy, cucuku dari Kayla mendekati Maminya dan membuka mulut minta disuapi. Lalu cucuku itu kembali berlari mendekati motor-motorannya, kembali asyik bermain menirukan seorang pembalap.
Read More

Cinta Pertama yang Tak Pernah Pudar


Dia cinta pertamaku

Wisnu Pratama, pria berjas putih, sedang berdiri di hadapanku, tampak menggairahkan dengan sikapnya yang santai. Senyumnya lebar dan mengundang, matanya yang kecoklatan bersinar ramah. Rambutnya yang berwarna hitam, sedikit acak-acakan seolah hanya disisir dengan jari tangannya, tapi ia tetap seksi. Ia memakai celana coklat dan kemeja polo biru di balik jas putihnya, tak mampu menyamarkan badannya yang tegap dan berotot. Penampilan rapinya sekarang semakin mematangkan ketampanan Wisnu.
Read More

Thursday, 22 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (4-Tamat)


Kini aku menapaki hari yang lebih menyenangkan. Tiga keluarga baruku menghiasi hari-hariku tanpa Faizal. Setahun berlalu dengan cepat tanpa kusadari. Kesepian tak lagi kurasakan karena selalu ada yang mengisinya.Bunda dengan kebijakannya, Mama yang selalu menghujaniku dengan kasih sayang yang dulu tak pernah ia berikan, Ayah yang selalu melucu meski terkadang garing, kak Amira, Najwa, Restu dan Aisyah selalu membuatku semakin merasa berarti hari demi hari. Aku juga sering bertandang ke rumah Bunda kandungku, menjumpai sebagian saudaraku, menyempatkan diri mengenal beberapa keponakanku dan entah beberapa kali aku mengajak mereka bermain di mal ataupun taman bermain. Hidupku terasa lengkap setelah aku membuka hatiku pelan-pelan.

Suatu hari, ketika aku sedang bertandang seperti biasa ke rumah Bunda Faizal dan mengobrol asyik dengan Ayahnya. Dua telapak tangan menutupi pandanganku tiba-tiba. Hatiku bergetar hebat saat mengenali wangi parfum itu. Benarkah ini Faizal? Aku diam dan membeku. Suara itu, suara yang kurindukan dalam malam-malamku setahun ini, berbisik memintaku menebak. Aku tak berani, sungguh tak berani berharap ini adalah kenyataan. Aku terlalu takut bersuara dan membangunkanku dari mimpi.

Aku menoleh ke belakang. Dia di sana, berdiri di belakangku dengan senyum yang tak berubah. Ada bayang membiru di dagunya yang biasanya bersih, mata teduhnya yang tampak selalu tertawa, rambut hitamnya yang kini agak cepak, senyum tipis mengulas tapi dia tetap Faizal. Faizal, yang memberiku cinta, yang mencairkan hati bekuku sekarang berdiri di sana. Aku tetap diam, menggigit bibir bawahku agar airmataku tak mengalir tapi sungguh sulit sekali. Dan pecahlah tangisku ketika ia memanggilku seperti biasa, “Halo, Angelku sayang!”

Faizal menyongsong, memelukku dengan erat tanpa mempedulikan Ayah dan Bunda serta saudari-saudarinya. Ia tahu aku terlalu emosional saat itu, aku tak bisa mengendalikan apapun saat itu. Aku merindukannya, menahannya dalam-dalam dan sekarang ia hadir di sini, seperti biasa mencurahkan kasih sayangnya. Pertama kali dalam persahabatan kami, aku berbisik di sela isak tangisku, “aku kangen kamu, Zal.”

Pelukan Faizal semakin erat. Ada getar saat ia mengucapkan, “terima kasih mau menungguku begitu lama. Terima kasih Angel!” Dan kami mengakhirinya dengan saling menatap penuh kerinduan. Faizal, lelaki bermata teduh itu benar-benar datang. Ia datang setelah membiarkanku memilih. Ia tak pernah menghubungiku karena tak ingin mengikatku. Ia mencintaiku dan selalu menyimpan di hatinya sendiri. Ia memanggilku Angel, karena menganggap suatu hari aku akan belajar jadi malaikat. Paling tidak untuk diriku sendiri.

Setelah beberapa hari ia kembali, penuh semangat aku mengajaknya menemui Mama dan adik-adikku. Tanpa ragu, ia langsung menyalami mereka. Setengah menggoda, ia melamarku pada Mama. Entah apa yang mereka bicarakan waktu aku ke belakang menyajikan minuman. Di belakang aku digoda kedua adikku, sementara pikiranku berulang kali memikirkan respon Mama. Tapi ketika aku kembali, senyum di bibir Mama dan Faizal cukup membuatku tenang kembali. Dan restu Mama yang begitu tulus saat berbisik di telingaku ketika kami berpamitan melengkapi pertemuan itu. Aku menyayangimu Faizal, dan lebih mencintaimu karena kau menghormati serta menghargai Mama.

Lalu aku pun memaksanya bertemu Ayah dan Bunda kandungku. Faizal tak mengatakan apapun saat bersama mereka, malah dengan luwes seperti biasanya ia masuk dengan mudah dalam keluargaku. Sama seperti bersama Mama, iapun menyampaikan hal yang tidak kuketahui. Aku hanya pergi sebentar ke belakang mencari adik-adikku untuk kukenalkan padanya, tapi sesaat kemudian aku melihat pandangan lain di mata Ayah dan Bunda. Pandangan penuh rasa syukur karena aku bisa bertemu Faizal, pandangan penuh cinta dan terima kasih karena aku tetap melibatkan mereka dalam hubungan emosional dengan lelaki lain.

Faizal telah menunjukkan dengan menghormati dua keluargaku tanpa sedikitpun menyinggung masa lalu. Nilainya terus bertambah tanpa aku sendiri mampu menghentikannya. Akupun meyakini kenyataan, aku jatuh cinta pada sahabat dekatku sendiri. Tapi sungguh tak mudah bagiku mengungkapkannya pada Faizal. Biarlah, biarlah rahasia itu berdiam di sudut hatiku tanpa ada siapapun yang tahu. Aku bahagia mendampinginya sebagai sahabat dan biarlah tetap seperti itu.

Lalu akhirnya muncullah pertanyaan dari Faizal. Kenapa aku begitu berubah? Sulastri alias Angel telah berubah. Dia bukan lagi Angel yang dulu, tapi kini dia adalah Sulastri yang seorang Angel. Aku tertawa dan bertanya, jika itu berarti tidak baik apakah itu artinya Faizal akan pergi lagi. Dan dia menjawab, “kalau ini berarti jauh lebih baik, maukah Angel menemani Faizal pergi kali ini?”

Aku terpaku, tatapan Faizal berubah serius. Aku menunduk dan menjawab, “seseorang mengajariku cara memberi cinta, dan aku justru belajar banyak setelah kehilangan cinta itu. Jika suatu hari orang itu datang padaku, aku bersedia memberi cinta yang tak sempat kuberikan padanya selama ini. Dan aku bersedia menerima cintamu, Faizal.” Dan iapun menggenggam erat jemariku, mengangguk dan dalam mata teduhnya kali ini aku melihat masa depan penuh cinta yang indah. Bawalah aku bersamamu, Zal dan kita akan bersama dalam keindahan cinta. Terima kasih telah mengajariku cinta, belajar memahami dan memberi cinta. Ajari aku cinta yang lebih banyak dan lebih besar, Zal. Ajari aku caranya dan biarkan aku membalasnya pada orang-orang yang kucintai terutama dirimu.



T A M A T
Note :
Menulis ini saat menunggu saat-saat tak pasti, enam jam lebih untuk operasi kanker yang dijalankan Mama.
Kupersembahkan di hari Ibu, sebagai tanda mata buat Mama, wanita kuat yang memberiku banyak inspirasi.
Read More

Wednesday, 21 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (3)


Aku belajar dari Ayah Faizal kalau cinta adalah memaafkan. Dengan memaafkan, kita belajar mencintai jauh lebih baik. Maaf membuka hati lebih luas dan cinta akan datang dengan mudah.
Dari kak Amira, kakak Faizal aku mempelajari ketulusan cinta. Cinta yang tulus yang kulihat saat ia mendidik putra-putranya. Pertama kali juga aku tahu kalau ketulusan bisa diperlihatkan melalui kemarahan.  Sekali kulihat kak Amira marah pada putranya tapi bukan jenis kemarahan yang sama saat aku kecil dulu, kemarahan di mata kak Amira terkendali dan teramat singkat tapi efeknya jauh lebih dahsyat. Putranya meminta maaf dengan penyesalan sebelum akhirnya kak Amira memeluknya dengan hangat. Hatiku tersentuh melihat cara kak Amira itu.
Read More

Giliran Ke Surga


Aku tersenyum-senyum sambil menggenggam erat tas daur ulang besar yang kubawa. Setumpuk buku cerita, mainan, topi-topi lucu, buku mewarnai dan beberapa krayon memenuhi tas itu. Minggu ini aku membawa lebih banyak dari biasanya.Tulisan-tulisanku yang mengisi berbagai media majalah anak-anak banyak dimuat bulan kemarin, hingga aku bisa membelikan anak-anak sahabat kecilku berbagai pesanan mereka. Ditambah pula beberapa buku cerita oleh beberapa sahabatku yang sudah tahu kegiatan bulananku ini. Ah, pasti mereka senang bisa mendapatkan lebih banyak dari biasanya. Lumayanlah buat menghibur hati mereka.
Read More

Tuesday, 20 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta! (2)


Sekali lagi Faizal selalu bisa memberiku semangat baru. Dengan humornya, ia menanggapi respon negatif tentang hasil kerjaku melalui pandangan positif. Tak ada yang tidak benar menurutnya, hanya terkadang perbedaan pandangan antara profesional dan awam sulit ditemukan. Hal yang paling penting bagiku, ia selalu bisa membuatku menghela nafas lega dan bersemangat menjalani pekerjaanku lagi.

Faizal pernah memberiku kejutan. Kejutan yang tak dapat kuduga dan membuatku sulit bernafas. Aku kehilangan kata-kata. Ia membawaku ke sebuah rumah kecil, namun indah dan asri. Tanpa sempat bertanya, ia mengajakku masuk, menemui seorang ibu dengan penuh senyuman dan seorang ayah berwajah ramah yang mirip Faizal. Ia merangkulku dengan hangat dan berkata pada mereka, “Kenalkan ini Sulastri, bunda. Aku memanggilnya Angel. Ini sahabat terbaikku, Ayah.”
Read More

Monday, 19 December 2011

Kisah Inspirasi - Ajari Aku Cinta!


Buatku Faizal hanyalah sahabat, buatku dia hanyalah satu dari sekian banyak lelaki yang menawarkan berbagai keindahan tapi aku yakin suatu hari nanti dia akan kembali pada apa yang kusebut dengan sisi hewaninya.
Cinta adalah sesuatu yang terlalu indah dan hanyalah khayalan dengan mata terbuka yang cengeng. Aku belajar bertahun-tahun tentang cinta dan belajar untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Satu cinta paling indah di dunia, kasih sayang hakiki dari janji surga pun tak dapat kuraih. Cinta Ibu yang begitu besar pada Ayah, membuatnya bahkan rela menjualku saat bayi pada orang lain.
Read More

Tuesday, 13 December 2011

Pasar Yang Terbakar


Kepulan asap terlihat dari kejauhan, dari balik atap-atap rumah. Aku berlari keluar mencari tahu, mengedarkan pandangan pada sekeliling rumah. Para tetanggaku pun ikut berhamburan keluar, sama-sama terbawa rasa penasaran dari mana datangnya asap hitam besar yang baunya tercium hingga ke rumah-rumah kami.
“Kebakaran di mana, mas?” tanyaku ketika melihat seorang pria yang berlari-lari melewati gang sempit rumah kami.
Pria itu menoleh,”Di pasar bu, habis. Semuanya kena,” kata pria itu sambil kembali berlari. Entah ke mana dia pergi, tapi kurasa ia ingin melaporkan peristiwa itu pada seseorang.
Read More

Wednesday, 7 December 2011

Belajar Bersyukur


Nurul menyodorkan selembar Surat perintah kerja, “Hari ini mas Danu setim dengan Mba Nisa.” Katanya sambil melemparkan senyumnya.
Meskipun senang melihat senyum manis Nurul, gadis resepsionis itu tapi tetap saja aku merasa kecewa. Untuk pertama kali aku bertugas di luar bersama seorang gadis. Apalagi semua orang tahu, gadis bernama Annisa itu sedikit aneh.
“Mas, Mba Nisa sudah nunggu di bawah.” Nurul menegurku lagi. Ia meletakkan telepon yang baru saja dijawabnya. Mungkin tadi Annisa yang meneleponnya memberitahu. Aku hanya mengangguk.
Read More

Tuesday, 6 December 2011

Keajaiban (Miracles)


Abby membanting tiga kardus susu ke dalam keranjang belanja, “Ini yang terakhir, aku capek!” kata Abby sambil menggiring keranjang belanjanya menuju kasir. Susah payah Abby mendorong keranjang melewati orang-orang yang juga sibuk berbelanja untuk menyambut natal, hal yang membuatnya semakin merasa kesal.
Anak-anak memang tak tahu terima kasih. Di saat mereka masih kecil, mereka membuat beraneka permintaan yang aneh-aneh saat natal menjelang. Sekarang saat mereka dewasa, mereka justru memilih menyibukkan diri bahkan sebelum thanksgiving tiba. Sebagai nenek dari tujuh orang cucu yang dicuekin oleh orangtua mereka, Abby memilih untuk membuat natal tetap indah dengan berusaha sebaik mungkin menyiapkannya. Walaupun ia sangat berharap ada keajaiban natal singgah di rumahnya, sungguh walaupun keajaiban itu hanyalah kehadiran tiga orang anaknya.
Read More

© Ruang Cerita, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena